Daerah

Sisi Lain Bukit Daun: Ketika Hutan Lindung Terdesak Kepentingan

×

Sisi Lain Bukit Daun: Ketika Hutan Lindung Terdesak Kepentingan

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi

BENGKULU,Jejakkota.com– Dari kejauhan, hamparan hijau Bukit Daun masih tampak menenangkan. Rimbun pepohonan yang membentang di sepanjang gugusan Bukit Barisan itu selama ini dikenal sebagai benteng terakhir hutan lindung di Provinsi Bengkulu. Di sanalah sumber air bermula, mengalir ke sungai-sungai yang menopang kehidupan ribuan warga di hilir.

Namun, ketenangan itu perlahan menyimpan kegelisahan.

Penelusuran di sejumlah titik kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Daun yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Lebong, dan Bengkulu Tengah menunjukkan adanya perubahan bentang alam yang tidak lagi bisa diabaikan.

Di balik pepohonan yang masih berdiri, terdapat area-area yang telah terbuka, sebagian di antaranya berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Jejak perubahan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Di lapangan, pola yang terlihat cenderung serupa: hutan ditebang, kemudian dibakar, dan perlahan ditanami komoditas bernilai ekonomi. Aktivitas ini umumnya dimulai dari batas kawasan yang berdekatan dengan permukiman, lalu merambat masuk hingga ke wilayah perbukitan.

Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa pola perambahan yang terjadi saat ini tidak lagi sekadar untuk kebutuhan bertahan hidup.

“Perambahan ini bukan sekadar urusan perut. Sudah ada spekulasi lahan. Setelah dibuka dan ditanami, lahan itu kemudian diperjualbelikan,” ujarnya, Minggu (5/4).

Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran pola, dari perambahan tradisional oleh masyarakat lokal menjadi aktivitas yang melibatkan kepentingan lebih luas.

Selain warga setempat yang memperluas lahan garapan, disebutkan pula adanya pihak luar yang membawa modal untuk membuka lahan dalam skala besar, dengan memanfaatkan tenaga kerja.

Dalam praktiknya, sejumlah pihak diduga mengklaim memiliki alas hak atas lahan di dalam kawasan hutan lindung, sebelum kemudian memperjualbelikannya kepada pihak lain. Klaim-klaim tersebut menambah kompleksitas persoalan di lapangan.

Dampak dari perubahan ini mulai dirasakan, meski belum sepenuhnya terlihat secara luas. Bukit Daun merupakan kawasan hulu bagi sejumlah sungai besar di Bengkulu.

Berkurangnya tutupan hutan berpotensi memengaruhi ketersediaan air, terutama saat musim kemarau.

Di sisi lain, hilangnya vegetasi penyangga juga meningkatkan risiko bencana ekologis, seperti longsor dan banjir bandang, yang dapat mengancam wilayah permukiman di sekitar kawasan.

Pemerintah melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) di bawah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu disebut telah melakukan berbagai upaya penertiban. Namun, luasnya kawasan serta keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan.

Kepala KPHL Bukit Daun, Yudi Riswanda, dalam pesan singkat menyampaikan apresiasi terhadap perhatian berbagai pihak terhadap kondisi hutan lindung tersebut. Ia juga membuka peluang untuk dialog lebih lanjut.

“Terima kasih sudah sama-sama peduli menjaga kawasan hutan kita, semoga kita bisa berdiskusi di kantor,” tulisnya melalui pesan whats App (06/04/26)

Di tengah berbagai dinamika itu, Bukit Daun masih berdiri menyimpan harapan sekaligus kekhawatiran. Di balik hijaunya yang tersisa, terselip pertanyaan tentang masa depan hutan lindung yang menjadi penopang kehidupan banyak orang.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *